My Journey

My Journey
Sekapur Barus
Isi tulisan dipersembahkan hanya untuk diri sendiri, langkah apresiasi terhadap usaha diri, berjuang hidup untuk mandiri, menikmati hidup yang hanya sekali, sebagai bukti bahwa diri pernah berdiri dan menjalani hidup tanpa menyesali. Dipersilahkan kepada para penjelajah dunia maya untuk menjelajahi blog ini. blog yang berisi kumpulan tugas kuliah,catetan dan kejadian aneh lainnya. NO SARA , NO PORNO , NO RASIS . salam damai ! ! !

Minggu, 11 November 2012

journey #Tide


Pembahasan Jurnal “Studi Komponen Pasang Surut Perairan Dangkal (Over And Compound Tides) Model Kanal 1 Dimensi Dengan Menggunakan Metoda Asimilasi Data  Variasional”
Fenomena pasang surut yang terjadi dilautan dalam waktu yang periodik sangat penting dan sangat mempengaruhi dalam aplikasi pada wilayah pesisir khususnya.Pengetahuan pasang surut dapat diaplikasikan dalama navigasi, rakayasa pantai/ocean engineering (pembuatan pelabuhan, bangunana penahan ombak/gelombang, jembatan laut, dan pemasangan pipa bawah laut), survei hidrografi, penentuan batas wilayah suatu negara serta pembangkit listrik.Penjalaran gelombang pasang surut pada perairan dangkal terjadi gesekan dasar yang merupakan komponen non linear komponen inilah yang disebut kompone pasang surut perairan dangkal/shallow water.
Diketahui dalam persamaan gerak terdapat dua suku non linear yaitu suku konvektif dan suku gesekan.Dimana pada suku gesekan terdiri dari dua aspek, suku gesekan kuadratik dan suku yang bekaitan dengan efek elevasi terhadap gesekan momentum ηu|u|.Dalam jurnal ini membahas penelitian penyelesaian persamaan gerak dengan menggunakan metode asimilasi data pada model numerik, hal ini dilakukan karena penyelesaian persamaan yang didalamnya terdapat suku-suku non linier secara analitik tidak mudah atau dikatakan sulit.Namun jika diselesaikan dengan menggunakan metode numerik akan menyebabkan ketidakstabilan.Terdapat juga cara alternatif yaitu, dengan melinearisasi suku –suku non linier.Dimana ketika kita mengabaikan suku-suku non linier ternyata akan memperoleh hasil yang kurang baik.Hal ini disebabkan pada perairan dangkal faktor non linier sangat signifikan.Namun dengan metode asimilasi data pada model numerik diharapkan mampu memperbaiki hasil model.Sehingga didapatkan hasil yang akurat dan dapat digunakan dalam pembangunan wilayah pesisir.
Sebelum membahas hasil penelitian pada jurnal ini, sebaiknya kita harus tau apa yang dimaksud dengan Asimilasi data.Hal itu merupakan  suatu metodologi yang dapat mengopimalkan informasi hasil pengamatan  dengan mengkombinasikan  kedalam model numerik.Konsep asimilasi ini secara langsung berhubungan dengan konsep error.
Secara umum asimilasi data dibagi menjadi 2 :
1.      Control Theory (variasional)
2.      Estimation Theory (sekuensial)
Pada jurnal ini menggunakan control theory (asimilasi data variasional), dimana memecahkan masalah dengan optimasi dari kriteria yang ada melalui cara meminimumkan cot function .Untuk mempermudah dalam menganalisa, dibuat sebuah model yaitu model kanal 1 dimensi (gambar.jurnal) dengan spesifikasi panjang kanal 126,875 km yang dibagi menjadi 12 grid dan tiap gridnya sepanjang 10,573 km.Maksud dengan adanya model ini untuk mengilustrasikan simulasi masalah yang ada sehingga mempermudah dalam menganalisisnya.
Dari hasil yang didapat pada penetilian tersebut menjelaskan bahwa pemilihan jumlah iterasi maksimum akan memepengaruhi hasil asimilasi.Kemudian berdasarkan data yang diperoleh (data tanpa asimilasi rms=12,70 % dengan asimilasi LAE=840, NAE=840 rms=0,0099%) dan sebelum diterapkan asimilasi rms untuk σ1 adalah 0,1075 m/det dan untuk σ2 adalah 0,44 m/det, sedangkan setelah diasimilasi mendapatkan nilai σ1 0,0125 m/det dan σ2 adalah 0,0129 m/det.Dari data tersebut diketahui bahwa metode asimilasi data variasional efektif meningkatkan ketelitian hasil simulasi.
Dengan perbedaan ketelitian tersebut sangat mempengaruhi jika diaplikasikan dalam kehidupan nyata.Semakin kecil nilai error atau rms maka hasil tersebut makin akurat dan direkomendasikan untuk digunakan dalam aplikasi manusia.Sehingga untuk saat ini direkomendasikan menggunakan metode asimilasi variasional dalam pengolahan data pasang surut.

Drupella spp #zoologi

PENDAHULUAN
Beberapa invertebrata seperti bintang laut bermahkota duri, siput prosobranch dan landak laut merupakan jenis invertebrata bersifat parasit bagi terumbu karang.Dalam kondisi ekstrim, jenis-jenis invertebrata tersebut merupakan masalah yang cukup serius bagi ekosistem terumbu karang.Ledakan populasi  dari jenis jenis invertebrata parasit tersebut merupakan salah satu bentuk dari kondisi ekstrim.Jika fenomena ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan dalam area yang luas, ini merupakan kerusakan ekosistem terumbu karang.Keanekaragaman jenis pada komunitas karang dan berbagai komponen penting yang terdapat pada perairan dangkal menyusun komunitas alami terumbu karang.Drupella spp merupakan salah sau jenis keong pemakan yang cukup penting diketahui keberadaannya diterumbu karang.Ledakan populasi Drupella spp diaustralia barat dan jepang pada tahun 1980an dan 1990an merusak karang dalam area yang cukup luas.
KLASISIKASI
Filum               : Moluska
Kelas               :Gastropoda
Clade               :Neogastropoda
Superfamili      :Muricoidea
Famili              :Muricidae
Subfamili         :Thaidinae
Genus              :Drupella
Spesies            :Drupella spp

MORFOLOGI
Semua anggota famili muricidea memiliki morfologi dasar yang identik.Sehingga cukup sulit untuk dibedakaannya.Beberapa perbedaan tersebut digunakan sebagai kunci identifikasi jenis.Cronia triangulata bagian atas permukaan cangkangnya putih dengan celah berwarna orange.Drupo morum abu-abu mengkilap dengan titik-titik hijau sangat banyak dan sedikit titik titik ungu.Morula granulata abu-abu mengkilap dengan bintik hijau tebal .Morula uva hijaun gelap,permukaan kaki putih.Thais tuberosa abu-abu mengkilap dengan titik abu-abu,putih dan ungu dalam jumlah yang banyak.Kesulitan dalam mengidentifikasi Drupella dan Cronia

 SISTEM REPRODUKSI
Moluska pada umumnya mengalami fase plankton pada awal hidupnya, yaitu pada face larva sebagai meroplankton.Setelah usia dewasa akan hiddup didasar perairan sebagi benthos atau berenang aktif sebagai nekton(pada cephalopoda).Pada moluska terdapat perbedaan pola reproduksi dan spesifikasi pada setiap kenis.Moluska yang hidup diair laut, termasuk Drupella spp, pembuahan terjadi secara eksternal.Individu jantan dan betina mengeluarkan sel gamet keair dan meletakkan pada suatu tempat dalam wakti tertentu, tergantng jenisnya.Sebelum telur menetas,betina memiliki peran yan lebih besar dari pada jantan dalam hal menjaganya dari  segala ancaman.Untuk melindungi dari lingkungan luar, telur diletakkan didalam kapsul, dimana dalam satu kapsul terdiri dari banyak telur.Kapsul-kapsul diletakkan secara bergerombol pada tempat yang terlindung dari predator.misalnya dibawah koloni karang.

Drupella spp, seperti halnya jenis moluska perairan lainnya mengalami metamorfosis selama beberapa kali dari larva sampai usia dewasa.Setelah telur menetas akan menjadi larva yang dinamakan trochophore.Larva kmeudian berkembang menjadi veliger, yaitu stadium larva yang sudah memiliki kemampuan berenang-renang dan mencari makan untuk dirinya sendiri.Pertumbuhan moluska terjadi dengan cepat saat usia masih belum dewasa dan akan semakin menurun hingga tidak mengalami pertumbuhan lagi setelah usia dewasa.

PERILAKU MAKAN DAN MAKANAN
Dalam keadaan normal Drupella spp,hanya memakan jaringan penghubung diantara polip karang.Hal ini memungkingkan karang untuk segera pulih setelah serangan Drupella spp.Drupella spp mengupas rangka atau jaringan karang, meninggalkan  bekas putih pada tempat yang dimakan dan dengan cepat berubah warna oleh alga.Drupella spp makan dari bagian tepi kemudian bergerombol pada bekas karang yang dimakan.
Hewan ini aktif pada malam hari dan mengelompok dibagian karang yang telah mati atau didekat area yang tersedia banyak makanan dan jarang ditemukan pada karang yang masih hidup karena cenderung menjauhi area belum dimakan agar terhindar dari kotak langsung sel penyangat pada karang.Drupella spp memiliki asosisasi yang kuat dengan karang bercabang acropora spp.
Keberadaan karang sebagai habitat dan sumber makanan bagu Drupella spp.Akan tetapi disisi lain,beberapa jenis ikan ikan predator sebagai pemangsa dari Drupella spp juga dalm kondisi melimpah.Sehingga ada hubuungan erat  antara Drupella spp dengan keadaann karang(sebagai mangsanya) dan ikan-ikan predator(sebagai pemangsanya).

 PERAN DALAM TERUMBU KARANG
Drupella spp merupakan gastropoda parasit yang menggangu stabilitas dan kesehatan karang.Namun masalah perusakan jaringan karang yang disebabkan oleh Drupella spp menjadi serius hanya apabila dalam keadaan yang sangat ekstrim.Drupella spp merupakan gastropoda yang memiliki kebiasaan memakan jaringan karang.Sifat dari Drupella spp bagi karang adalah sebagai parasit.Namun secara Drupella cornus memiliki asosiasi yang sangat kuat denga kelimpahan jenis karang bercabang.Pada area yang memiliki jenis-jenis karang bercabang(acropora spp) dengan tutupan yang cukup baik akan memiliki populasi Drupella cornus yang cukup tinggi.Karena karang cabangsangat penting pada tahap awal pertumbuhan Drupella cornus untuk melindungi diri dari pemangsa.

headline #HidrolikaPantai


Tugas kali ini yang saya ambil, berupa kondisi pesisir diwilayah East Coast Park,Singapura. Perlu kita ketahui sebelumnya bahwa metode breakwater headland control ini diperkenalkan pertama kali oleh Silvester dan Hsu pada tahun 1993 dan diaplikasikan di negara singapura. Breakwater atau dalam hal ini pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai dan berada pada jarak tertentu dari garis pantai. Pemecah gelombang dibangun sebagai salah satu bentuk perlindungan pantai terhadap erosi dengan menghancurkan energi gelombang sebelum sampai ke pantai, sehingga terjadi endapan dibelakang bangunan. Endapan ini dapat menghalangi transport sedimen sepanjang pantai.
2002
 Pembangunan breakwater jenis ini dimulai pada tahun 1993, akan tetapi saya tidak menemukan foto citra pada tahun tersebut. Sehingga saya tidak dapat mengetahui kondisi pesisir tanpa breakwater headland control. Dari gambar diatas, nampak terjadi pembentukan daratan baru disebuah muara sungai.Bahkan terlihat muara tersebut sudah tidak memiliki jalur aliran sungai kelaut akibat terjadi pengendapan sedimen diwilayah tersebut.Ditambah lagi sedimen mengendap dibagian belakang  breakwater sehingga terbentuk daratan yang menyambung dari pantai ke breakwater.
2005

2009




Dalam kurun waktu 3 tahun terjadi beberapa perubahan pada garis pantai tersebut. Hal itu bisa kita lihat pada gambar diatas, salah satu perubahan yang ada yaitu terjadi proses tranportasi sedimen diwilayah muara sehingga sedimen yang awal mulanya mengendap didekat muara sungai secara perlahan tertranport oleh arus menjauhi wilayah muara. Aliran sungaipun mulai kembali normal tanpa gangguan sedimen yang mengendap dimuara sungai. Perubahan lainnya yaitu daratan yang semula terbentuk dibagian belakang breakwater mulai terlihat berkurang. Jumlah sedimen yang terakumulasi dibagian belakang sedimen makin menyusut dibandingkan pada tahun 2002.
Dari kedua fenomena tersebut, terjadi proses kesetimbangan pantai. Fungsi perlindungan garis pantai adalah dengan cara membuat situasi dimana garis pantai berorientasi secara paralel terhadap garis puncak gelombang datang, sehingga meminimalkan angkutan sedimen transpor sepanjang pantai dan menciptakan pola pantai yang setimbang (equilibrium / pocket beach). Pola pantai setimbang yang dimaksud adalah pola pantai yang berada pada titik kecenderungan dalam kondisi tetap walaupun terjadi perubahan yag kecil. Pola pantai East Coast Park,Singapura terjadi titik kesetimbangan pantai pada tahun 2005, hal ini disimpulkan karena pada tahun 2009 kondisi pola pantai serupa pada pola pantai ditahun 2005. Dengan kata lain tidak terjadi perubahan yang signifikan pada pola pantai tersebut.Distribusi sedimen yang terjadi ideal, maksud ideal adalah tidak terjadi pengendapan sedimen dan erosi  berlebihan yang berdampak pada pola pantai. Terdapat Faktor –faktor atau yang secara khusus disebut parameter struktur yang mempengaruhi adanya equilibrium state pada pemecah gelombang terhadap adanya salient atau tombolo antara lain adalah dimensi struktur, yaitu panjang struktur, lebar struktur, jarak dari garis pantai asli, dan tinggi puncak struktur.
Jika kita lihat dari gambar, kita dapat menyimpulkan bahwasanya metode headland control yang diterpakan di pantai East Coast Park,Singapura sudah memiliki spesifikasi sebagai breakwater yang dibutuhkan untuk membentuk pola pantai setimbang sehingga mulai banyai diterapkan dinegara lainnya.